Minggu, 06 Januari 2013

INTERAKSI OBAT ANTI HIPERTENSI PADA FASE FARMAKODINAMIK



INTERAKSI OBAT ANTI HIPERTENSI PADA FASE FARMAKODINAMIK



Kelompok VII
Yusuf Abdul Bahri
Winda Karnelia Putri
Siska Br Sembiring
Dwi Astuti
Mirna Lisna
A.    Pendahuluan
Interaksi obat adalah perubahan efek suatu obat akibat pemakaian obat lain (interaksi obat-obat) atau oleh makanan, obat tradisional dan senyawa kimia lain. Interaksi obat yang signifikan dapat terjadi jika dua atau lebih obat digunakan bersama-sama (Anonim a, 2011).
Interaksi obat dan efek samping obat perlu mendapat perhatian. Sebuah studi di Amerika menunjukkan bahwa setiap tahun hampir 100.000 orang harus masuk rumah sakit atau harus tinggal di rumah sakit lebih lama dari pada seharusnya, bahkan hingga terjadi kasus kematian karena interaksi atau efek samping obat. Pasien yang dirawat di rumah sakit sering mendapat terapi dengan polifarmasi (6-10 macam obat), sehingga sangat mungkin terjadi interaksi obat (Anonim a, 2011).
Interaksi obat secara klinis penting bila berakibat peningkatan toksisitas atau pengurangan efektivitas obat. Jadi perlu diperhatikan terutama bila menyangkut obat dengan batas keamanan yang sempit (indeks terapi yang rendah), misalnya glikosida jantung, antikoagulan dan obat-obat sitostatik. Selain itu juga perlu diperhatikan obat-obat yang biasa digunakan bersama-sama (Anonim a, 2011).
Ada tiga jenis interaksi obat, yaitu interaksi farmasetis, farmakokinetik, dan farmakodinamik (Dalimunte A., 2009).
1.      Interaksi Farmasetis
Interaksi farmasetis adalah interaksi fisiko-kimia yang terjadi pada saat obat diformulasikan / disiapkan sebelum obat digunakan oleh penderita. Misalnya interaksi  antara obat dan larutan infus IV yang dicampur bersamaan dapat menyebabkan pecahnya emulsi atau terjadi pengendapan.
2.      Interaksi Farmakokinetik
Pada interaksi ini obat mengalami perubahan pada proses absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi yang disebabkan karena adanya obat atau senyawa lain.
3.      Interaksi Farmakodinamik
Interaksi ini terjadi bila sesuatu obat secara langsung merubah aksi molekuler atau kerja fisiologis obat lain. Kemungkinan yang dapat terjadi :
1)      Obat-obat tersebut menghasilkan kerja yang sama pada satu organ (sinergisme).
2)      Obat-obat tersebut kerjanya saling bertentangan ( antagonisme ).
3)      Obat-obat tersebut bekerja independen pada dua tempat terpisah.

Interaksi yang kerap terjadi biasanya adalah interaksi farmakodinamik dan interaksi farmakokinetik. Farmakodinamik dapat diartikan efek obat terhadap tubuh sedangkan farmakokinetik adalah nasib obat dalam tubuh. Contoh interaksi farmakodinamik adalah interaksi antara 2 atau lebih obat yang mengakibatkan adanya kompetensi dalam pendudukan reseptor sehingga meniadakan salah satu efek dari obat yang digunakan. Sedangkan contoh dari interaksi farmakokinetik adalah interaksi 2 obat atau lebih yang mengakibatkan obat tertentu cepat dibuang dalam tubuh atau lambat dibuang dalam tubuh, akibatnya waktu paruh obat menjadi berbeda dari biasanya.
Akibat dari interaksi obat :
a.       Efek Sinergis : 1 + 1 = 10
Obat A dan obat B digunakan bersamaan sehingga memberikan efek yang berlipat ganda.
b.      Efek Antagonis : 1 + 1 = 1
Obat A dan obat B digunakan bersamaan sehingga memberikan efek meniadakan salah satu dari efek obat.
c.       Efek Additif : 1 + 1 = 2
Obat A dan obat B digunakan bersamaan sehingga memberikan efek ganda.

Dalam menyikapi interaksi obat ini, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah cara pencegahan terjadinya interaksi dengan “memainkan” waktu pemberian obat, misal Obat A diberikan pada jam 8 dan obat B diberikan pada jam 12. Ada juga teknik-teknik lain untuk menghindarinya, yaitu dengan meningkatkan / menurunkan dosis pemberian obat ketika waktu pemberian obat tidak dapat diubah. Misal dosis obat A dapat dinetralkan oleh obat B jika digunakan bersamaan, maka dosis obat A diberikan berlebih (Perdana, 2011).

B.     Interaksi obat Anti Hipertensi
·         Beta-bloker dengan diuretika.
Percobaan di klinik menunjukkan bahwa kombinasi beta-blocker dengan diuretika diperoleh kerja anti hipertensi yang lebih baik. Dalam hal ini tidak terjadi postural hipotensi dan tachycardi yang disebabkan oleh diuretika (thiazide) dan juga peninggian plasma renin akibat pemberian diuretika akan dikurangi oleh beta-blocker. Kombinasi obat ini akan menghasilkan effek terapi yang lebih baik. Ternyata efek sampingnya akan berkurang. Pemberian hydralazine yang menimbulkan reflex tachycardi akan berkurang bila pemberiannya dikombinasikan dengan beta-blocker (Anonim b, 2009).
·         Beta-bloker dengan serotonin
Beta-bloker  dapat meningkatkan resistensi saluran nafas pada pasien asma, penggunaan serotonin memberikan efek potensiasi Β-bloker sehingga memperkuat bronkospasme pada penderita asma (Anonim b, 2009).
·         Propanolol dengan obat hiperglikemi
Propranolol menghambat glikogenolisis di sel hati dan otot rangka, sehingga mengurangi efek hiperglikemia dan epinefrin. Akibatnya, kembalinnya kadar gula darah pada hipoglikemia (misalnya oleh insulin) ke keadaan normal diperlambat (Anonim b, 2009).

DAFTAR PUSTAKA
Anonim a. (2011). Interaksi Obat. Diakses tanggal 30 Desember 2012.  www.itokindo.org.
Anonim b. (2009). Antagonis Adrenoseptor B (β-Bloker). Diakses tanggal 30 Desember 2012. www.dokterumum.net
Dalimunte, A. (2009). Interaksi pada obat antmikroba. Diakses tanggal 30 Desember 2012.  www.repository.usu.ac.id
Perdana, Putra. (2011). Interaksi Obat. Diakses tanggal 30 Desember 2012. 
            www.rmp.ums.ac.id



 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar